Baca Juga

© Reuters.
ilustrasi
indometro indonesia - Nilai tukar rupiah masih bergerak turun terhadap dolar AS Jumat (13/03) petang. Hingga pukul 15.57 WIB menurut data Investing.com, rupiah melemah 1,83% atau turun 265 poin di 14.775,0 per dolar AS setelah sebelumnya sempat mencapai level tertinggi harian di 14.840 per dolar.
Dengan pelemahan ini dilansir Kontan Jumat, rupiah masih menjadi mata uang dengan penurunan terbesar pada hari ini. Posisi kedua diisi oleh won Korea yang turun 1,04%.
Pergerakan mata uang di kawasan mulai beragam. Yuan Cina (USD/CNY) menjadi mata uang dengan penguatan paling tinggi setelah naik 0,51%. Disusul rupee India dan peso Filipina yang berhasil menguat masing-masing 0,42% dan 0,20%.
Tren turun rupiah USD/IDR ini lanjut laporan akibat imbas investor mulai membuang aset berisiko di tengah meningkatnya risiko di pasar global akibat penyebaran masif dari virus covid-19.
Menanggapi hal ini ungkap Kata Data, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pelemahan mata uang tak hanya terjadi pada rupiah. Mata uang negara yang dianggap aset aman seperti yen Jepang bahkan menurun tajam.
Lebih lanjut, permasalahan kesehatan menurut Sri Mulyani memicu kondisi krisis saat ini. Tak hanya di Tanah Air, tekanan itu juga dialami oleh seluruh negara di dunia.
Oleh sebab itu, pemerintahan serta bank sentral seluruh dunia saat ini menerbitkan banyak sekali kebijakan dan stimulus. "Hal ini untuk menciptakan langkah sinkron agar bisa sama-sama segera memitigasi," kata dia.
Pemerintah sebelumnya telah mengumumkan sejumlah stimulus yang diharapkan menggairahkan sektor usaha dan mendorong daya beli masyarakat. Stimulus ini termasuk pembebasan pajak hotel dan restoran selama enam bulan.
Selain itu, pemerintah juga akan membebaskan sementara Pajak Penghasilan (PPh) 21 bagi karyawan selama enam bulan. Adapun PPh yang ditanggung pemerintah tersebut berlaku untuk sektor industri manufaktur.(inv)