Baca Juga

Ilustrasi dolar AS
ilustrasi usd
Nilai tukar dolar AS terhadap rupiah masih berada di posisi Rp 14.740. Padahal pemerintah telah merilis stimulus jilid II untuk meminimalisir dampak dari virus corona atau Covid-19 terhadap perekonomian dalam negeri.

Tren pelemahan tampaknya memang belum mau hilang membayangi laju nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Berdasarkan data Reuters, nilai tukar dolar AS melemah tipis dibandingkan pagi tadi di level Rp 14.835.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate tercatat Rp 14.815. Dalam penutupan perdagangan akhir pekan ini rupiah sempat melemah di level 14.815 dan ditutup di level 14.715. Dalam perdagangan pekan depan mata uang garuda diprediksi masih akan tertekan di level Rp 14.700- Rp 14.830 per dolar AS.
Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengungkapkan penguatan dolar AS yang terjadi hari ini disebabkan oleh banyak faktor.

Mulai dari bank sentral Eropa yang mengumumkan tidak memangkas suku bunga, namun memberikan pinjaman bank dan memperluas program pembelian aset sebesar US$ 135,28 miliar. Kemudian, The Federal Reserve menawarkan suntikan likuiditas besar-besaran ke pasar keuangan.
"Mereka mencari untuk memberikan triliunan dolar dalam bentuk pinjaman sementara ke sistem perbankan dalam beberapa minggu mendatang sementara pada saat yang sama membeli sekuritas pemerintah yang lebih luas," kata Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (13/3/2020).

Lalu Bank of Japan menyebut akan membeli sekitar 200 miliar Yen obligasi pemerintah Jepang dan menyuntikkan 1,5 triliun Yen dalam pinjaman dua minggu.

Sementara itu dari sisi internal pemerintah RI mengumumkan hari ini ada yang meninggal akibat virus corona di Solo setelah hari sebelumnya di umumkan 2 orang yang meninggal akibat virus corona. Pada Rabu disebutkan pasien positif corona di RI menjadi 34 pasien.

Sementara Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) telah menetapkan COVID-19 sebagai pandemi.

Penetapan itu dilakukan lantaran jumlah kasus maupun negara yang terjangkit wabah itu meningkat tajam. Sampai dengan Kamis (12/3/2020), WHO mencatat sudah ada 126.380 kasus di 124 negara di seluruh dunia.(detiknews)